Model pembelajaran
9 November 2021
8 November 2014
Kamu Datang
Kamu datang
disaat tak ada lagi tempatku bersandar,
kamu datang
memberikan bahu hangat untukku menyandarkan keluhku
kau menabur harapan diladang hatiku
begitu ingin aku menuainya denganmu
kamu datang
"aku bukan tempatmu bersandar" katamu
kini, hadiahmu hanya punggung itu
punggung yang kutatap kabur karna air mataku
Kamu datang
Dalam tiap mimpi semuku
dalam tiap doa yang kutepis agar tak ada lagi namamu
Kamu datang
menghadiahkan perih,,
menyadarkanku tak ada lagi tempat bersandar selain Allah
Aku berjalan,
hidupku mulai beranjak,
aku semandiri karang, ya aku congkak
Karena ingin kau melihatku tak putus harapan
Kamu datang
Menjanjikan lebih dari bahumu
tak lagi menabur, kau menyuguhkan ranum buah itu
"aku mempersiapkan semuanya hanya untuk saat ini" katamu
Kamu datang
membuatku membenci diriku
diriku yang goyah, karena begitu ingin menyambut tanganmu
"Sehebat apa dirimu, memainkan hidupku ditanganmu tanpa mengikatku, dan kini kau datang ingin memintaku dari ayahku?"
"Karena aku bukan nomor satumu, tak sepantasnya aku mengikatmu. Aku mendambakan nomor dua dalam hidupmu setelah Dia",bisikmu tanpa penyesalan.
Aku luruh,, aku menerimamu,
Kamu datanglah...
Yogyakarta
01112014 20;06
fikNoFik
17 Agustus 2014
17 Agustus 2014: Banyak Hal yang Membuatku Bangga, Aku Indonesian
Hari ini adalah hari kemerdekaan indonesia ke 69. Terlepas dari carut marut politik dan apapun yang kamu lihat sekarang, Indonesia sudah berusia 69. Dan buat kamu yang sejak membuka mata sudah berada di negeri ini bersyukurlah dan BANGGALAH MENJADI ORANG INDONESIA. Banyak hal tentang Indonesia yang akan membuatmu bangga. Percayalah, karena aku tidak menyuruhmu menutup telinga dari suara sumbang yang mencerca Indonesia untuk membuatmu tetap bangga menjadi orang Indonesia. Silahkan dengar suara sumbang itu, tapi buka juga wawasan kamu tentang beberapa hal yang akan aku beberkan pada postinganku ini. Dan banyak hal yang mungkin tak bisa aku tulis semua. Begitu banyak hal yang membuat kita bangga menjadi orang Indonesia.
1.
Produk Indonesia
Banyak produk Indonesia yang tak kalah
saing dengan barang-barang import produksi negara lain. Hey.. kamu pecinta
barang import, kayaknya kamu perlu baca artikel-artikel berikut. Mungkin barang
yang selama ini kamu bangga-banggakan sebagai barang luar negeri adalah produk
Indonesia. Dan Harusnya kamu lebih bangga menggunakan produk Indonesia.
21 Merk Indonesia Terkenal yang Dikira Merk Luar Negeri
21 Merk Indonesia Terkenal yang Dikira Merk Luar Negeri
Produk-Produk Indonesia yang Mendunia
Dua Produk Indonesia Sukses Rajai Pasar
AS
Dan masih banyak artikel-artikel tentang
membanggakannya produk Indonesia jika kamu mulai membuka pikiranmu untuk
mencari informasi lebih.
2.
Kuliner Indonesia
Ya kuliner Indonesia adalah hal yang
akan sangat membuatmu merindukannya saat kamu pergi terlalu jauh dari negaramu
ini. Jika kamu tak berkesempatan pergi jauh dari Indonesia dan menyangkal bahwa
masakan Indonesia adalah salah satu hal yang akan membuatmu bangga, maka
bukalah buku sejarahmu. Diberbagai buku sejarah telah dituliskan alasan
penjajahan Indonesia adalah rempah-rempah. Ya. Rempah-rempah, bumbu dengan
berbagai rasa yang membuat makananmu tidak hambar. Dan banyaknya kuliner dari
sabang sampai merauke membuktikan betapa kayanya Indonesia. Berbagai rasa itu
akan terasa lebih saat kamu membandingkannya dengan masakan berbagai negara
lain. Atau baca beberapa artikel ini agar kau tahu ISTIMEWANYA MASAKAN
INDONESIA
CNN : World’s 50 best Food
Sate (urutan 14), Nasi Goreng (Urutan
2), Rendang (Urutan 1)
Dan 40of Indonesia’s Best Dishes
The Best Thing to Eat in 35 Countries
Around The World
http://www.businessinsider.com/the-best-thing-to-eat-in-every-country-2013-9?IR=T&op=1 >> Martabak Manis Indonesia
3.
Tempat Wisata
Indonesia itu surga dunia, kecantikan
dan kekayaan alamnya mempesona banyak turis asing. Jadi kenapa kita tidak mulai
traveling keliling Indonesia dan menunjukan betapa bangganya kita sebagai orang
Indonesia.
NY Times: 52 Placed to Go in 2014
Yogyakarta, Indonesia (20)
Puretrevel: Top 16 recommended things to
do In Indonesia
25 Photos That will Make You Want to
Visit Indonesia
4.
Prestasi Orang Indonesia
Siapa bilang Indonesia selalu kalah
dibanding orang-orang dari negara maju lainnya? Indonesia banyak melahirkan
orang-orang berprestasi dan bahkan banyak orang berprestasi asal indonesia yang
begitu berpengaruh di dunia.
7 Orang Indonesia Pertama yang Menguncang
Dunia
14 Pelajar RI raih Emas di Olimpiade
Matematika
10 Animator Sukses Asal Indonesia
Star 50 Kapal Terbaik Dunia berbobot
mati 50000 ton
15 Orang yang Bikin Kamu Bangga jadi
Warga Negara Indonesia
5.
Buuuaaaaannyyaaakkk lagi
lainnya
Batik, Tari Kecak dan berbagai budaya
Indonesia, Bahasa Indonesia dan berbagai bahasa daerah, dan banyak lagi yang
harusnya bukin kamu bangga jadi orang Indonesia.
Fakta Menarik Bahasa Indonesia
20 Hal Sepele Dari Indonesia yang
Mendunia
Keunggulan Indonesia di mata Dunia
Dan masih banyak lagi hal-hal membanggakan
tentang Indonesia. Buka mata dan pikiran, indonesia adalah tempat ternyaman
untuk lahir dan tumbuh besar. Semoga artikel ini dapat membuka matamu untuk
melihat Indonesia lebih positif. Selamat Hari Kmerdekaan Indonesia ke 69^^
16 Agustus 2014
Wanita Para Lelaki ‘Super’
Fans Fiction
Hanya rindu menulis. Hanya membayangkan jatuh cinta pada
lelaki super yang bahkan tak pernah terbayangkan ada di bumi, disekitarmu.
Membayangkan menjadi wanita-wanita pada film dan buku-buku Superhero seperti Superman,
Spiderman, I am Number Four, Twilight, dan kisah super lainnya dengan posisi
wanita yang lemah yang selalu dijadikan umpan oleh si jahat untuk menjebak si
lelaki super. Sebenarnya memikirkan ini setelah membaca I am number Four,
kemudian merasa tergelitik dan hanya rindu menulis. Daaann ini dia fans fiction
pertamaku :D
Dia ada, dia
berbeda. Berapa kalipun aku mencoba meyakinkan diriku, ini bukan khayalan
kanak-kanakku yang melompat keluar dan menjadi kenyataan saat aku dewasa. Ini
benar-benar terjadi, lebih mengerikan dari khayalan gadis kecil. Aku akui, tak
ada yang salah dalam mencintai seseorang, meski dalam kasusku aku membuat
kesalahan yang sangat besar. Dia? Mungkin sebagian kecil salahnya karena dia
terlalu menarik. Seperti kutub magnet yang selalu fleksibel. Menjadi kutub
utara yang sejuk saat aku si selatan panas yang merindukan dingin dan menjadi
selatan si misterius yang kudambakan saat aku kutub utara terlalu terlalu mudah
untuk dibaca.
Dia berbeda,
dia telah memperingatkanku berkali-kali. Cinta yang memang membutakankah? Atau otakku
yang terlalu bebal untuk mencerna peringatannya? Aku pun tak mengerti kenapa
aku masih di sampingnya, dan kenapa aku berharap begitu besar untuk dapat
bersamanya? Karena dia telah menyelamatkan nyawaku berkali-kali ? Ya itu memang
terjadi, aku berhutang padanya. Tapi perasaan yang meluap-luap di hatiku
bukanlah rasa membalas budi seperti itu. Terlebih lagi dia benar-benar membuat
diriku bergetar dengan bulu kuduk berdiri yang butuh waktu lama untuk bisa
kembali lemas. Siapapun mungkin akan lupa membalas budi saat yang menolongmu
adalah sesuatu yang lebih mengerikan dari apa yang membahayakanmu bukan? Dia
makhluk lain, yang dengan mudah menyelesaikan segala hal lebih cepat ratusan
bahkan ribuan kali dari manusia. Dia istimewa, yang perlu berkonsentrasi lebih
hanya untuk menyentuhku, agar tak menyakiti kulitku rapuhku karena kekuatannya.
Tidakkah aku
takut? Aku takut luar biasa. Tak semudah menjentikan jari tangan untuk menerima
semua ketidakwajaran dalam sekian detik setelah dia memberitahuku semua
identitasnya. Diriku bergelut jauh di dalam sana, bahkan berharap semua yang
terjadi didepan mataku benar-benar khayalan gadis kecil yang terlalu pintar berimprovisasi
dalam imajinasinya. Aku memeluknya erat sementara batinku tak bisa menerima
ucapannya. Aku menciumnya dalam sementara sebagian dariku benar-benar ingin
lari darinya.
Ada perintah
jauh di dalam diriku untuk menjauhinya. Seperti cicit alarm yang tak akan
berhenti berbunyi untuk memperingatkan tanda bahaya. Alam bawah sadarku tahu
lebih banyak resiko yang akan kuhadapi daripada hatiku yang mencinta. Di setiap
malamku, aku selalu bertekad untuk menghindarinya, seperti katanya, aku pantas
mendapatkan yang lebih baik darinya. Tapi tak sampai sekian menit setelah
memutuskan hal itu aku mulai merindukannya. Tekadku untuk tetap bersamanya
bahkan lebih besar dari hari ke hari. Tentang mendapatkan yang lebih baik
darinya ? Omong kosong, dialah hal terbaik dalam hidupku. Bukan aku yang
memutuskan, karena sewajar daun yang akan meliuk saat dibelai angin, sewajar
itulah aku bersama dengannya. Meski dia lebih mengerikan dari bayangan
terburukmu, aku mencintainya. Dia hanya... berbeda.
Lutvia,
16-08-2014
Senter di Dinding
Berpuisi dalam Cerita
Entah berapa lama ga pernah nulis cerita fiksi lagi, mungkin serbuan bacaan nonfiksi yang 'harus' menjejali pikiranku menggeser imajinasiku. Atau mungkin terlalu malas membaca beberapa novel yang hanya berakhir rapi dilemari tanpa sempat dibaca membuat refrensi nonfiksiku tak lagi berkembang. Tapi hari itu begitu saja aku menulisnya, cerita singkat dari KOBIMO - Kelas Bimbingan Menulis Online-. Akhirnya aku kembali menulis, bahkan saat itu aku menulis dari ponsel. Terkadang sesuatu mesti berjalan tanpa di rencanakan dan melihat hasilnya untuk tersenyum puas, inilah spontanitasku.... :D
Dan ini dia ceritaku....
Penjara ini gelap, penjara ini dingin. Aku
tak tahu apakah segelap itu pula hati ini, yang aku tahu pasti, dia sunyi, tak
lagi secerewet dahulu. Hati ini dahulu selalu berbincang membicarakan tindak
tandukku. Terkadang marah, terkadang memuji atau dia terlalu sering marah
padaku? Ah aku tak ingat, bahkan akupun lupa kapan sunyi ini menjadi kebiasaan
hatiku. Senter di dinding mengerjap, terkesiap, pensil di tanganku jatuh ke
lantai. Aku menghela nafas, sesunyi ini juga penjara, dia bahkan enggan
berdenting saat kayu pesilku menyentuhnya. Kuhela nafasku dalam, pandanganku
menatap kosong sketsa seorang lelaki di kanvas. Lelaki muda dengan mata menyala
mencerminkan semangat jiwanya. "Aku akan mengabdi pada negeri ini !",lantangnya
teriakan lelaki itu berdengung di telingaku. Lelaki itu tampak mempesona di hadapan
ribuan massa yang mengelu-elukannya.
Senter di dinding kembali mengerjap, layaknya proyektor yg mengerjap konstan memutar sebuah film. Kini sketsa laki-laki di kanvas itu bergerak, aku bahkan mendengarnya berbicara. Lelaki di kanvasku tengah mengucapkan sumpah jabatan, bulu kudukku merinding mendengan getar suaranya mengucap sumpah. Aku yakin dia pemimpin yang baik. Pemimpin yang mampu memegang amanat ribuan rakyat yang dipikul di bahunya. Ribuan rakyat yang menggenggam tangannya erat ditiap tinjauan dinasnya. Dia pemimpin yang mendapat cinta rakyatnya.
Senter di dinding kembali berkedip. Kini sedikit lama jeda kedipnya, mungkin baterai lupa tekadnya menyalurkan energi untuk si senter. "Mungkin dia lupa janjinya" ,desah seseorang, entah suara siapa yang terdengar dari kanvasku. Tapi tampaknya sketsa lelaki di kanvasku tak menghiraukannya. Dengan angkuh dia masuk mobil mewahnya seusai peresmian Mall yang entah keberapakalinya memakan lapak pasar traditional. Dia bahkan tertawa puas menemukan amplop makin mengisi kantongnya. Bahkan keluh kesah warga akan sulitnya ekonomi kian membuatnya enggan turun ke pasar-pasar tradisional. Kini sketsa wajah lelaki di kanvasku terlihat angkuh. Dia sibuk menghadiri pesta-pesta pengusaha dan investor yang akan lebih menebalkan kantongnya.
Senter di dinding mengerjap, aku menunggunya kembali menyala. Tampaknya senter di dinding itu membuat kesabaranku habis hingga aku harus memukulnya agar menyala kembali. Aku menatap kanvasku, hey kemana perginya lelaki di sketsaku. Aku mendekat dan meraba kanvasku, aku bahkan mengetuk-ngetuk layaknya pintu. "Aku ingin melihat kisahnya lagi ya Allah",bisikku merapal doa. Doa?, aku tertunduk terkejut. Kapan terakhir kali aku berdoa? "Dulu... dulu sekali saat kamu masih mendengarkanku",sebuah suara terdengar dari kanvasku. Aku mendongak, sketsa lelaki di kanvasku muncul dan menatapku pilu. Bukan, bukan tatapannya! Itu tatapanku... sketsa lelaki di kanvas ini adalah aku. Langkahku gontai menjauhi kanvasku, senter di dinding memproyeksikan sesuatu yang mengerikan. Rakyat menghujatku, tatapan-tatapan kecewa itu begitu menyakitkan. Oh itu adalah diriku dengan tangan terborgol digiring ke KPK.
Senter di dinding tak lagi berkedip. Kini dia memberiku kegelapan sempurna untukku menangis dan menyesali tindakanku. "Penjara ini gelap, penjara ini dingin", bisik hatiku. Aku tersedu-sedu memeluk diriku erat. Oh akhirnya dia kembali....
Lutvia, 06-08-2014
Senter di dinding kembali mengerjap, layaknya proyektor yg mengerjap konstan memutar sebuah film. Kini sketsa laki-laki di kanvas itu bergerak, aku bahkan mendengarnya berbicara. Lelaki di kanvasku tengah mengucapkan sumpah jabatan, bulu kudukku merinding mendengan getar suaranya mengucap sumpah. Aku yakin dia pemimpin yang baik. Pemimpin yang mampu memegang amanat ribuan rakyat yang dipikul di bahunya. Ribuan rakyat yang menggenggam tangannya erat ditiap tinjauan dinasnya. Dia pemimpin yang mendapat cinta rakyatnya.
Senter di dinding kembali berkedip. Kini sedikit lama jeda kedipnya, mungkin baterai lupa tekadnya menyalurkan energi untuk si senter. "Mungkin dia lupa janjinya" ,desah seseorang, entah suara siapa yang terdengar dari kanvasku. Tapi tampaknya sketsa lelaki di kanvasku tak menghiraukannya. Dengan angkuh dia masuk mobil mewahnya seusai peresmian Mall yang entah keberapakalinya memakan lapak pasar traditional. Dia bahkan tertawa puas menemukan amplop makin mengisi kantongnya. Bahkan keluh kesah warga akan sulitnya ekonomi kian membuatnya enggan turun ke pasar-pasar tradisional. Kini sketsa wajah lelaki di kanvasku terlihat angkuh. Dia sibuk menghadiri pesta-pesta pengusaha dan investor yang akan lebih menebalkan kantongnya.
Senter di dinding mengerjap, aku menunggunya kembali menyala. Tampaknya senter di dinding itu membuat kesabaranku habis hingga aku harus memukulnya agar menyala kembali. Aku menatap kanvasku, hey kemana perginya lelaki di sketsaku. Aku mendekat dan meraba kanvasku, aku bahkan mengetuk-ngetuk layaknya pintu. "Aku ingin melihat kisahnya lagi ya Allah",bisikku merapal doa. Doa?, aku tertunduk terkejut. Kapan terakhir kali aku berdoa? "Dulu... dulu sekali saat kamu masih mendengarkanku",sebuah suara terdengar dari kanvasku. Aku mendongak, sketsa lelaki di kanvasku muncul dan menatapku pilu. Bukan, bukan tatapannya! Itu tatapanku... sketsa lelaki di kanvas ini adalah aku. Langkahku gontai menjauhi kanvasku, senter di dinding memproyeksikan sesuatu yang mengerikan. Rakyat menghujatku, tatapan-tatapan kecewa itu begitu menyakitkan. Oh itu adalah diriku dengan tangan terborgol digiring ke KPK.
Senter di dinding tak lagi berkedip. Kini dia memberiku kegelapan sempurna untukku menangis dan menyesali tindakanku. "Penjara ini gelap, penjara ini dingin", bisik hatiku. Aku tersedu-sedu memeluk diriku erat. Oh akhirnya dia kembali....
Lutvia, 06-08-2014
Cerita ini sudah diedit penulisannya. Tapi mungkin masih banyak kesalahan. Aku kerepotan masalah tulis menulis. Terima kasih sudah membaca postingan ini, dan aku akan senang sekali jika ada yang mau memberi kritik atau saran tentang tulisan ini. Jika kamu ingin tahu grup yang aku bicarakan, silahkan klik Kobimo. ^^
Langganan:
Postingan (Atom)


